Facebook, friendster, myspace adalah beberapa contoh jaringan pertemanan yang sangat digemari oleh orang banyak di dunia dari anak-anak bahkan sampai orang tua pada saat ini. Jaringan pertemanan adalah layanan yang dipakai untuk mencari teman diseluruh dunia melalui koneksi yang terhubung dengan internet. Fenomena jaringan pertemanan ini mulai marak di Indonesia diawal dengan munculnya friendster yang pada saat itu digandrungi oleh anak-anak remaja dari mulai SD sampai mahasiswa.
Dalam jaringan maya tersebut, orang-orang yang mempunyai akun yang telah terdaftar dapat mencari teman-teman yang mereka kenal atau orang-orang yang belum mereka kenal diseluruh dunia, dan menambahkan akun orang lain dalam akun mereka. Mereka dapat berinteraksi satu sama lain melalui website tersebut, karena akun yang sudah menjadi friend dapat terhubung langsung.
Dari fakta diatas kita dapat mengetahui bahwa dalam jaringan pertemanan tersebut terdapat interaksi antara mereka. Mereka dapat saling mengirim dan membalas komentar kepada akun friend mereka. Bahkan dalam jejaring facebook atau myspace terdapat program yang memungkinkan kita berkomunikasi secara langsung melalui program percakapan atau yang biasa kita sebut program chatting. Namun, efektifkah komunikasi diantara mereka yang berinteraksi tanpa tatap muka itu?
Menurut Sarah Trenholm, komunikasi antarpribadi adalah komunikasi tatap muka, dengan umpan balik yang langsung dan kemampuan untuk beradaptasi dengan orang lain. Dari pengertian komunikasi antarpribadi yang disampaikan oleh Sarah Trenholm, komunikasi seharusnya ada tatap muka agar feedback atau umpan balik yang diharapkan oleh seseorang tercapai dan tidak terjadi kesalah pahaman diantara mereka. Karena harapan dari komunikasi antarpribadi tersebut adalah ingin mengenal orang lain, memperbaiki hubungan antar manusia, mengenal lawan bicara.
Bila kita melihat kembali komunikasi yang dilakukan dalam akun jaringan pertemanan tersebut, mereka tidak melakukan tatap muka. Kita hanya dapat mengenal mereka dari pesan yang mereka kirimkan kepada kita. Itu saja tidak cukup untuk mengenal orang lain dengan baik. Komunikasi seperti itu mempunyai kelemahan. Salah satu contoh kasus yang terjadi akibat komunikasi melalui facebook baru-baru ini menimpa pada seorang siswi SMAN Jogoroto bernama Rohmatul Latifah Asyhari. Dia menghilang lebih dari 10 hari, setelah dia mengenal orang yang dia temui melalui facebook. Dia diduga menjadi korban trafficking atau perdagangan manusia. Menurut Rohmatul yang sempat mengabari ayahnya, dia berada di Jakarta bersama temannya yang baru dia kenal lewat jaringan pertemanan tersebut.
Dari contoh kasus tersebut, komunikasi yang dia lakukan dengan teman barunya di facebook tidak efektif. Karena kefektifan komunikasi terjadi bila dalam komunikasi tersebut terdapat umpan balik yang saling dimengerti dan sesuai yang diharapkan oleh mereka yang berkomunikasi. Warga Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Jombang tersebut terjebak oleh orang yang baru dia kenal melalui facebook. Dalam kasus tersebut, umpan balik yang diterima oleh Rohmatul tidak sesuai yang diharapkannya, karena dia tidak mengenal dengan baik teman barunya itu.
Jadi kelemahan dari komunikasi dalam situs jaringan pertemanan tersebut diantaranya adalah umpan balik yang kita terima kadang tidak sesuai yang diharapkan, kita tidak bisa mengenal dengan baik orang yang berinteraksi dengan orang lain di situs tersebut, bahkan dapat terjadi sesuatu yang berbahaya bila kita salah mengambil keputusan untuk berkomunikasi seperti kasus yang telah dipaparkan diatas.
Bagi kita yang mempunyai akun jaringan pertemanan seperti itu, janganlah percaya pada rayuan orang yang baru kita kenal dan belum pernah kita lihat sebelumnya secara langsung, berkomunikasilah dengan mereka sewajarnya orang yang baru bertemu, manfaatkan program chatting dan sebagainya dalam jejaring pertemanan tersebut dengan bijaksana.
Jaringan pertemanan seperti itu memang merupakan tempat untuk mencari banyak teman baru, dan itu bermanfaat bagi kita. Namun, jangan sampai perilaku komunikasi diantara kita dalam jaringan pertemanan tersebut menjadi masalah bagi kita. Kita harus tahu bagaimana berkomunikasi yang efektif dan mengetahui sebatas apa kita harus berkomunikasi dengan orang yang baru kita kenal melalui jaringan pertemanan tersebut.
Semoga kita tidak menjadi korban jaringan pertemanan seperti yang dialami oleh Rohmatul tersebut karena perilaku komunikasi kita sendiri yang kurang efektif. Bijaksanalah dalam mencari teman baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar